SUDUT PANDANG AKHIR PEKAN

SEKOLAH LAGI = DUIT LAGI

 

Senin kemarin, tepat putri ketiga  lahir ke dunia. Alhamdulillah berjalan  lancar dan sehat, begitu pula si ibu.  Kehadirannya menambah ramainya keluarga  kecil kami. Keluarga kecil? Yah maklum, si sulung akan menginjak 5 tahun, yg nomor 2 sudah 3.5 tahun.. masih kecil-kecil kan? J.

Bertambahnya jumlah anak sudah menjadi umum di pikiran orang, menambah pikiran..  tentu kebutuhan akan sembako,  pakaian,  mesti bertambah.. ndak terkecuali sekolah.

Sudah 1 tahun ini si sulung menghabiskan waktunya dengan “sekolah-sekolahan”… tiap pagi bersama si no 2 dan ibunya saya antarkan menuju “sekolah” untuk menjalani proses “sekolah-sekolahannya”

Saya namakan “sekolah-sekolahan” karena memang disitu dulu adalah sekolah yang saya dirikan bersama teman-teman. Namun karena suatu hal, sekolah itu terpaksa dilikuidasi.

Pilihan sulit memang… Jika disekolahkan di sekolah lain, (sayangnya kurikulum sekolah untuk anakku, kami sekeluarga mengetahui dan memahami nya bahkan membuat simulasi sendiri di rumah), yang jika kami masukkan pada sekolah lain.. itung-itungan biaya nya membuat kami berpikir ulang. Mahal. Apalagi yang berlabel “Islam”, dengan dibumbui “Integral” , “Terpadu”, “Full Day”.. seperti nonton bioskop (pernah nonton ndak J?) semakin lama durasinya tentu semakin  banyak kocek orng tua yang mesti di keluarkan.  Itupun belum tentu system  yg dijalankan sesuai harapan.

Seorang teman kuliah pernah mengeluh, kawan-kawannya mendirikan sekolah Islam di tanah  waqaf, pembangunannya terwujud melalui  bantuan, opersional didukung oleh donator, … namun biaya sekolah nya tetap saja.. mahal,  kalau tidak dikatakan mencekik dompet. Sembari gundah ia bergumam.. beginikah solusi Islami terhadap  dunia pendidikan? Pasti dijawab yang “bermain” di dunia pendidikan “lho memang itu tuntutan kurikulum sekarang kok.. sekarng jamannya begini begitu..”  jadi, hiruk pikuk dunia pendidikan yang semrawut  dijawab  dengan solusi sekolah “Islami”.. namun ketika solusi ini menimbulkan permasalahan yang berupa “Biaya” …maka jadinya adalah menjawab  masalah dengan masalah.  Pendidikan sekuler dijawab dengan pendidikan “Islami”, lalu memunculkan persoalan berikutnya yakni financial. Yang akhirnya ndak terjangkau… inikah solusi? (Gundahnya teman saya juga.. aktivitas da’i di masyarakat kadang masih bagian dari masalah  belum sampai taraf solusi, jadi jangan harap ummat tergerak begitu saja.. opo hubunage? Pikiren dewe)

Dulu, saya mengenyam pendidikan SLTA di sebuah Sekolah Katolik swasta. Alasan  klasik waktu itu Sekolah Katolik itu no 2 terbaik setelah SMAN 1! SMAN 2 pun dbawahnya dalam soal prestasi akademik! Dan lagi.. terjangkau. Saya ingat ketika awal masuk di hari-hari pertama, semua murid diwawancarai pihak sekolah ditanya pekerjaan bapaknya apa, gajinya berapa… untuk  menentukan SPP yang mesti dibayar! Dan saya dapat lebih  ringan dari perkiraan saya.. (diluar motif yang bisa kita prediksi yakni Misi Pemurtadan).. Tapi jalan ini jangan ditiru lo..

“Ah, masak tergiur sekolah murah rela sekolah di non muslim..”

Saudara,…  ini fakta yang hari ini masih banyak kita temui. Kita prihatin dengan aksi pemurtadan dengan melalui media  pendidikan. Namun disaat sama kita  mentolerir Kaum Muslimin menyelenggarakan pendidikan dengan biaya tinggi. Kan ada beasiswa?  Santunan? Jawabannya kan  kebanyakan terbentur syarat… Syarat penghasilan minimal sekian, prestasinya sekian. Memangnya semua orng tua  dianggap bangga  apa, bila digolongkan “orang miskin” walau penghasilan pas-pasan ? Atau harus merekayasa harus miskin? Memangnya anaknya harus pintar apa hingga prestasi akademik dijadikan patokan? Itu artinya kita mendiskriminasikan pendidikan itu sendiri. Untuk masuk sebuah TK “Islam” Terpadu bahkan yang berbau “alam” disini orang tua harus merogoh kocek diawal Rp 1 juta keatas, belum bulanan  yang hampir tembus Rp. 100 ribu. Orang tua yang berpenghasilan pas-pasan, ndak tentu, dan bahkan  minus, akan mbayar dari mana? (jadi ingat pembagian BLT oleh  pemerintah, yang kadang si penerima bantuan harus merekayasa supaya dikategorikan “Miskin”, sementara ngambilnya aja  bawa  motor keluaran baru)

“Didiklah anakmu sesuai jamannya” kira-kira begitu sebuah nasihat agung pernah saya baca. Artinya dalam mendidik anak kita harus  beroientasi masa depan dan jangka panjang.

Cuman, apakah caranya harus ikut berubah? Belum tentu… Saya beberapa hari lalu membaca buku catatan  pelajaran keponakan  yang di bangku SMA, Pelajaran Fisika, isinya..  rumus2 Fisika tentang Lensa,  Hukum Kekekalan Energi, Elektrofisika, yang rumus dan pemecahannya dari dulu ya gitu2 saja. Padahal katanya sejak saya lulus SLTA, kurikulum dan metode pengajaran di perbahauri dan uptodate… Eh… kok masih gitu-gitu saja isinya! Namun, bukankah dengan rumus yang gitu2 aja muncul inovasi teknologi  yang sekarang kita nikmati?

Lha terus kenapa sekolah ribut dengan perangkat multimedia notebook, lcd proyektor,  wifi, dan sebagainya. Padahal  hanya untuk sekedar menyajikan E=mc2

Itulah gambaran kepanikan dunia pendidikan  kita menghadapi kemajuan teknologi… Panik, dan pragmatis sehingga ada benak jika ndak ada itu ndak jalan…, bahkan supaya dapat bantuan dari Pemerintah pun kita pontang-panting mbangun sana-sini, nyediakan  ini itu.. sebagai syarat kelayakan dapat bantuan. Akhirnya habislah dana itu  untuk sesuatu yang bukan jaminan…. Sayangnya mental pemerintah yang demikian kita terlanjur  welcome… Diperparah kepanikan orang tua, yang  “terteror” akan masa depan anak-anaknya.. kuliah gimana,  kerja dimana…

Eh.. solusi  untuk si sulung gimana nih? J .. Mau sekolah di sebuah lembaga milik ormas Islam terbesar… ada ganjalan dengan ritual-ritual yang kami  kurang berkenan yang selalu diajarkan. Sekolah umum.. apalagi..  murah memang.. tapi apa ya mesti kalo murah jadinya begitu?

Wallahu’alam.. yang kami khawatirkan bukan kemampuan akademisnya, karena  ibunya Alhamdulillah meluangkan mengajarkan baca tulis dari hijaiyah hingga latin, dari doa-doa, hadits hingga surat pendek. Namun berkaitan dengan perkembangan jiwa social si anak. Dia mesti mengeskplorasi rasa ingin tahunya terhadap lingkungan.. dan itu kadang sulit dijawab dengan  belajar mandiri (atau homeschooling ya?)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s